BANYUWANGI, Kupasinfo.com - Upaya menjaga produktivitas perikanan budidaya tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produksi, tetapi juga dengan memastikan kualitas air dan kesehatan ikan tetap terjaga. Untuk mengantisipasi risiko penyakit dan kerugian usaha, kunjungan lapangan serta pembinaan teknis kepada pembudidaya menjadi bagian penting dalam pengelolaan budidaya, Kamis (5/11/2026).
Melalui kegiatan kunjungan dan pembinaan, kondisi usaha budidaya dapat dipantau secara langsung. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pengujian kualitas air untuk mengetahui kondisi lingkungan kolam, sekaligus pemeriksaan kesehatan ikan guna mendeteksi kemungkinan gangguan sejak dini.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, S.P., M.Si., melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Yuly Susan Tony, S.Pi., menjelaskan bahwa pemantauan kualitas air dan kesehatan ikan perlu dilakukan secara berkala. Langkah tersebut penting untuk membantu pembudidaya mengenali potensi masalah sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.
Baca Juga :Dalam kegiatan pembinaan, pengujian kualitas air menjadi salah satu langkah untuk mengetahui kondisi media pemeliharaan. Parameter seperti suhu, tingkat keasaman atau pH, serta kandungan oksigen terlarut perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap kesehatan dan pertumbuhan ikan.

Selain pengujian air, pemeriksaan kesehatan ikan juga diperlukan untuk melihat kondisi fisik dan perilaku ikan selama masa pemeliharaan. Penurunan nafsu makan, gerakan yang tidak normal, perubahan warna tubuh, luka, hingga kematian ikan dapat menjadi tanda awal adanya gangguan yang perlu ditindaklanjuti.
Hasil pemantauan tersebut dapat menjadi dasar pemberian arahan teknis kepada pembudidaya. Mulai dari pengaturan kepadatan tebar, pemberian pakan sesuai kebutuhan, pembersihan kolam, hingga pengelolaan air agar tetap mendukung kehidupan ikan.
Pembinaan secara langsung juga memberikan kesempatan bagi pembudidaya untuk menyampaikan kendala yang dihadapi selama proses pemeliharaan. Dengan demikian, rekomendasi penanganan dapat disesuaikan dengan jenis komoditas, kondisi kolam, dan sistem budidaya yang diterapkan.
Apabila ditemukan gejala penyakit atau kematian ikan yang tidak wajar, penanganan perlu dilakukan berdasarkan pemeriksaan dan rekomendasi petugas teknis. Penggunaan obat-obatan maupun bahan tertentu tanpa mengetahui penyebab gangguan berisiko tidak efektif dan dapat menimbulkan persoalan baru.
Di sisi lain, pengelolaan air buangan dan limbah kegiatan budidaya juga menjadi perhatian. Sisa pakan dan kotoran ikan yang menumpuk dapat menurunkan kualitas air apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu, pembudidaya perlu menerapkan praktik pemeliharaan yang memperhatikan kesehatan ikan sekaligus kelestarian lingkungan.
Kunjungan lapangan dan pembinaan teknis diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pembudidaya mengenai pentingnya pencegahan penyakit, pengujian kualitas air, serta pemantauan kesehatan ikan secara rutin. Pendampingan yang berkelanjutan juga menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan pembudidaya dalam mengelola risiko usaha.
Dengan pemantauan dan pembinaan yang tepat, potensi gangguan kesehatan ikan dapat dikenali lebih awal sehingga langkah penanganan bisa segera dilakukan. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menjaga tingkat kelangsungan hidup ikan, mempertahankan hasil panen, serta memperkuat keberlanjutan usaha perikanan budidaya di Kabupaten Banyuwangi.